Jumat, 26 Juni 2015

Bulan Sabit



Ini khayalanku saat kecil dulu. Pada saat itu, aku ingin duduk di lengkungan Bulan Sabit. Mengenakan gaun berwarna merah muda dengan bros mawar di pinggang. Melingkarkan flower crown di atas kepala dan membiarkan rambutku terurai. Bulan Sabit tidak sendirian melainkan ditemani oleh jutaan bintang-gemintang yang berkilauan bak permata.
Mereka terlihat begitu akrab, mereka sangat cantik, hiasan Tuhan penentram malam. Aku merasa tiap kali berjalan atau berlari kecil, mereka seperti mengiringiku. Takut aku terjatuh atau terpeleset. Mereka adalah sahabat malamku pengantar bunga tidur. Aku ingat benar, dulu sebelum tidur sembari didongengi Ibu, aku bersenandung, "Ambilkan Bulan, Bu", "Bulan", dan "Bintang Kecil" hingga aku terlelap.
Andai Bulan Sabit dapat diambil, kan kupinta semua bintang untuk membentuk sebuah tangga menuju Bulan Sabit. Ingin aku meluncur di atas punggung Bulan Sabit hingga terhempas di gumpalan awan putih nan lembut dan melayang menembus jutaan bintang. Lalu kuajak dia bersamaku agar tidurku tenang dan lelap dalam impian.

Pria Bermata Minimalis


Kamarku mempunyai udara sejuk, menyimpan keheningan yang mampu membangkitkan pikiranku untuk  berdaya khayal. Aku sedang tak belajar hanya untuk mengamati  foto seorang pria bermata minimalis. Senyumnya tak lepas namun membuatnya tampak elegan. Lelaki itu mengenakan baju berwarna putih, dengan background  berwarna merah . Akhir-akhir ini dia sangat sibuk tapi aku bisa memaklumi dan mengerti. Setelah kupikir-pikir kembali akan lebih baik  jika disela kesibukkannya dia masih mengingatku  dengan memberi sepadi kabar.

Sifatnya  berubah, menjadi sedikit lebih dingin dari hal yang lalu. Namun kuharap jangan terlalu perasa karena  bukan artinya aku tak suka, hanya  belum saja terbiasa. Mungkinkah dia menyadari, kalau dia bukanlah tokoh pria dalam lembaran komik  Jepang.  Lembaran  yang bisa selalu membuat wanita bertanya-tanya. Aku tidak pernah meminta dia untuk mengubah sifatnya kembali lagi seperti yang dulu. Sifat yang terperangkap lensa mata disaat pertama kali aku mengenalnya. Kali ini, aku berusaha mencoba berdamai dengan suasana. Suasana  yang tercipta dari tingkah lakunya.

Aku berkhayal, saat aku kembali ke masa lalu. Mengingatnya saat membuatku tertawa lepas, mengingat  tingkah  cueknya padaku juga mengingat perhatian dari marah dan maafnya. Dia unik, celupan karakter berbagai warna hingga aku tidak bisa menyimpulkan yang mana sifat dominannya. Aku tahu, aku seorang plin-plan. Aku merindukan sosoknya  yang dulu disaat bersamaan pun aku mengagumi sosoknya yang sekarang. Aku masih memikirkannya hingga sampai saat ini, bahkan aku ingin merasukinya disaat dia coba  untuk lupakan aku.

Aku rindu pertemuan itu walau terbatas, rindu yang  sampai tumpah karena tak terbalaskan.  Dibalik itu, aku sangat mengerti dia hanya berpura-pura bertindak tidak perseptif. Aku tahu, aku hanya sesosok gadis yang membosankan dimatanya. Sosok yang kupikir bisa membantunya mewujudkan janji yang dulu pernah sempat  dia tegaskan. Tapi ternyata aku tak mampu, aku terlalu kecil dihadapannya hingga mata minimalisnya tak tahu bahwa aku selalu di sampingnya.  Aku  tak dibutuhkan lagi, ada semacam hukum baru, yaitu  jalani peran masing-masing dan dia menyetujui postulatku.

"Sekarang semua sudah jelas, padahal banyak yang ingin kuceritakkan padamu.  Apakah mungkin kau akan kembali berantusias  untuk mendengar ceritaku ?" Tentu tidak, pikirku.

Dia menyakitiku dengan luka agar aku belajar tegar dan dengan diam memaksaku  bersikap serius serta lenyapkan sifat kekanak-kanakanku. Aku sadar, aku dan dia bukan satu takdir untuk menjadi cinta. Bukanlah cerita cinta lama yang sudah habis terkikis, namun dari itu kusimpan segala kenangan, gurauan, perhatian, kesayuan, dan  yang paling terjaga ketat adalah kenyamanan. Pesan singkatnya yang dulu, lembaran foto dan pantun yang ia tulis masih kukemas rapi dibuku kecilku. Kenangan itu tak akan kubuang  seperti sampah waktu. Tapi, kujaga dan kutata di halaman dinding hatiku. Aku selalu mengusik ketenangannya dan aku baru menyadari. Aku puas dengan usahaku selama ini. Kuharap insiden ini tidak membuat kita untuk berhenti berkabaran.

“Hey pria bermata minimalis apa hatimu juga minimalis? Mengapa aku bisa menyayangimu ?  Oh… Allahku bolehkah aku perjelas, bahwa ini bukan retorik, semua ini butuh jawaban.”

Kamis, 19 Februari 2015

Bukan Fatamorgana

By: Arum Cantika Putri

Jangan kau pandang sunrise
Dia muncul hanya saat fajar menghirap

Jangan kau pandang lembayung senja
Dia muncul hanya saat malam menjemput

Jangan kau pandang lunar
Jangan kau pandang gemintang
Mereka muncul hanya saat sunset menghirap

Juga
Jangan kau pilih memandang selenelion
Dia adalah fatamorgana

Pandang langit!
Dia ada setiap saat
Dia bukan fatamorgana
Dia benar ada

Jumat, 07 Maret 2014

Kisah Klasik Bersama Baro

          Telah lama rasanya aku tak bersua dengan Baro, sosok yang selalu bersandar menempati fantasi-fantasi yang tinggal di pikiranku selama ini. Baro adalah lelaki yang kukenal sebagai seorang yang romantis dan  lucu. Hampir setiap waktunya saat dulu kami sering berdua, ia selalu menyanyikan senandung lagu untukku. Selain itu, ia juga mempunyai gigi seperti Hamtaro, anime serial Jepang yang sangat aku sukai. Tak pelak, ia pun sering kupanggil dengan sebutan Hambaro. 
           Suatu malam, bulan nampak terang-benderang ditemani jutaan bintang-gemintang. Aku menyaksikan langit malam itu bersama Baro di bangku halaman depan rumahku, tepatnya di bawah pohon cemara, tempat kami biasa bercanda dan tertawa ria. Seketika kami tertegun, saat satu bintang memancarkan cahayanya lebih terang ketimbang banyaknya bintang yang kami pandang.
           "Lihat itu, bintang apa ya?" tanyanya padaku.
           "Kurasa, itu bintang kejora." jawabku sekenanya. 
Entahlah, aku juga tak begitu memikirkan nama bintangnya. Baro pun lantas bernyanyi. Suara Baro yang khas membuatku lebih menikmati suasana tenang malam itu.
         Meski malam masih belia, Baro memutuskan untuk lebih awal pulang ke rumahnya. Jarak rumahnya dari kediamanku cukup dekat. Aku sedikit kesal saat ia beranjak pergi meninggalkanku. Tapi tak apalah. Sebab, esok harinya ia akan menemaniku di rumah yang sedang sendirian ditinggal Ayah dan Ibu ke luar kota.
         "Tarik selimut!" ujarku penuh harap yang ingin cepat-cepat bertemu Baro di dalam mimpi. 
Bulan begitu cepat tergantikan oleh sang surya. Sebenarnya aku belum ingin bangun. Karena aku memang benar-benar bertemu Baro meskipun aku sedang dalam keadaan Lucid Dream. Dan aku juga tahu ia akan menemuiku pagi itu. Tapi apa boleh buat, alarm yang letaknya di atas lemari kecil berisikan buku-buku di samping tempat tidurku, membuatku terkejut, kesal, dan terbangun.
          Ketukan pintu khas dari Baro merebak ditelingaku, lekas kubuka pintu dan kupersilahkan Baro untuk masuk. 
       Sifatku yang memang sedikit kekanak-kanakkan meski telah memasuki usia remaja membuatku masih saja senang akan hal yang berbau barbie. Aku bergegas mengambil mainan diniku itu yang tersimpan rapi dibalik kaca lemari koleksiku. Namun, aku tak malu pada Baro. Baro yang memang sejak kecil telah bersahabat denganku, cukup mengenal karakterku yang satu ini. Aku pun tak segan mengajaknya bermain Barbie. Heran benar aku saat itu, ia sama sekali tak menolak. Ia malah mengiyakan ajakanku. Mungkin saja ia hanya ingin membuatku senang. Atau jangan-jangan ia memang menyukai boneka mungil itu? Terserah saja. Tapi aku yakin ia tidak menyukainya. 
          Aku juga suka makan es krim. Es krim yang aku sukai yaitu Hula-Hula Ketan. Sesederhana itulah aku. Dan Baro juga tahu itu. Kami sering membuat es krim di rumahku. 
          Kami juga suka bermain hujan. Saat hujan turun, kami ibarat anak kecil yang berlarian di bawah titik-titik air itu, lengkap dengan jas hujan, payung, dan tidak lupa pula kami mengenakan sepatu boot. Kami bagaikan dua Donal Bebek yang sedang bermain lumpur. Ternyata, kotor itu kadang menyenangkan. 
         Pada hari Minggu, kami sering bersepeda mengitari kota. Tidak jarang kami mondar-mandir tak tahu tujuan. Dan lagi-lagi, itu adalah saat-saat yang menyenangkan bersamanya. 
         Kelak aku ingin ia bisa berada disampingku. Menemani hari-hariku layaknya saat kami bersama dulu. Makan es krim atau apalah. Aku merindukan memori manis itu. Selama ini, yang aku lakukan hanyalah berkhayal dan mencoba bermimpi tentangnya. Hampir setiap malam atau saat santai aku sering menerka bagaimana wajahnya kini. Aku seperti orang-orang yang menderita Skizofrenia. Bahkan, lama-lama aku bisa saja stres karenanya. 
     Terkadang, aku berpikir betapa senangnya bila mempunyai pacar khayalan. Di mana kita bisa menciptakan sendiri sifatnya, wajahnya, dan semua tentang pacar khayalan serupa mungkin yang kita inginkan.
        Aku juga senang akan semua hal tentang kegilaanku pada Baro selama ini. Senang bisa menyanyikan lagu-lagu yang pernah ia nyanyikan padaku dulu. Aku sering senyum-senyum sendiri setelahnya, bahkan tertawa terbahak-bahak. Terlebih lagi saat aku menangisinya.
     "Bisakah aku menghentikan semua ini? Menghentikan khayalanku tentang Baro atau pun menerka sosoknya yang sekarang?" kata-kata inilah yang selalu muncul di benakku saat ini.
         Aku mencoba menghentikan semua ini. Aku ingin bangkit dari keterpurukan. Menghindar dari bayang-bayang sosok Baro di kepalaku. Dan berusaha untuk mencari kesibukan sampai sesibuk-sibuknya. Aku juga senantiasa berdo'a, semoga saja suatu saat nanti, entah kapan pun itu, aku bisa berjumpa lagi dengannya.